.
Namanya Jono, umurnya sekarang genap 65 tahun, tapi dia tak menampakkan
kesan uzur seperti pria seumuran dengannya. Dalam usianya yang
sebenarnya sudah sepuh dia tetap menjadi pekebun semangka di Perean
Tabanan, kebun semangkanya tersebar di pinggiran jalan Bedugul, di
Basang Be sampai ke sekitar Luwus. Dia tak punya lahan sendiri tapi
menyewa sekitar Rp 50.000/are untuk setahunnya. Ini sewa yang murah
karena di tempat lain dihitung sekali musim tanam sewanya Rp 30.000. Setahun bisa tiga kali tanam dan 2 kali panenKepiawaiannya
bercocok tanam semangka dimulai ketika di tahun 80an, dia gagal panen
karena serangan wereng. Waktu itu dia tak menyewa lahan tapi memakai
sistim nandu, pemilik punya separo dia dua pertiganya.
“Saya
keluar bibit, keluar ongkos traktor dan pupuk, giliran panen pemilik
dapat lebih banyak, ketika kena serangan wereng saya tetap merugi tapi
si pemilik tak mau ikut nanggung ruginya,” tutur ayah 5 anak yang
semuanya sudah berkeluarga ini.
Berawal
dari rasa sakit hati itulah dia belajar bertanam semangka dari petani
asal Jember yang sukses bertanam semangka di Kuwum kala itu. Selama satu
musim dia menjadi buruh cangkul, menanam dan menyiangi semangka,
setelah ilmunya cukup, dia pulang ke Perean.
Dia
jual 5 ekor sapinya untuk ongkos sewa lahan. Dia membeli bibit sebotol
yang kala itu harganya masih Rp 50.000. Dia mencangkul lahannya sendiri,
menyiangi dan membuat anjir yakni tongkat bambu tempat merambat semangka. Penduduk yang masih pasrah hanya bertanam padi mengiranya sudah gila.
“Mereka
pikir semangka hanya pantas hidup di dataran rendah tidak di Perean
yang ketinggannya hampir 500 meter diatas permukaan laut, tapi saya
terus maju bertanam semangka, sempat gagal sampai 4 kali tak membuat
saya putus asa,” tambahnya.
Kegagalan
sering disebabkan oleh kesalahan memilih bibit, mestinya yang non biji
merah bukan yang kuning dengan biji, maka ketika bibit sudah tepat,
dalam sekali panen tanah yang disewanya tak sampai Rp 3 juta untuk 10
bulan, bisa menghasilkan lebih dari Rp 20 juta sekali musim.
“Demi
melihat saya berhasil, tetangga langsung berdatangan belajar bertanam
semangka, dan mereka berlomba-lomba menanam semangka sampai sekarang,”
ungkapnya lagi. Sekarang ini dia memiliki tak kurang dari 75 are lahan
sewaan yang ditanami semangka. Dalam satu are diisi tak kurang dari 100
pohon maka untuk 75 are dia memiliki tak kurang dari 4900 anjir yang
sarat semangka.
Harga
satu kilogram semangka bisa mencapai Rp 6000. Dan setiap panen dia
mendapatkan sekitar 2 ton, maka bisa dihitung untuk satu musim panen dia
mengantongi tak kurang dari Rp 12 juta bersih sudah dipotong bibit dan
ongkos garap lahan.
Semangkanya
ranum dan bagus, karena dia merawatnya dengan telaten. “Semangka itu
termasuk tanaman yang gampangan, tidak seperti melon dan timun suri yang
perlu perkawinan khusus, pupuk khusus dan perlakuan yang khusus pula,”
ungkapnya. Hanya saja semangka tak tahan hujan, daunnya menguning
bunganya rontok kemudian batangnya membusuk.
Pasarnyapun
tak terbatas, tidak laku di pasar Baturiti, dia menjualnya sampai ke
pasar Batu Kandik atau Pasar Kumbasari dan Kreneng, kesemuanya di
Denpasar.
Semangka
juga tidak seperti melon yang gampang rusak, dia malahan semakin lama
disimpan airnya makin susut rasanya makin gurih, dan jangan lupa jaman
sekarang ketika banyak orang terkena hipertensi, ingin awet muda mereka
umumnya menggunakan semangka untuk obat.
“Selain
untuk pelengkap sesajen, semangka juga menjadi buah andalan sebagai
hidangan penutup atau pencuci mulut di resto dan cafe,” tambahnya.
Dia
tak hendak kembali menjadi petani padi yang membuat dia trauma karena
merugi jutaan akibat serangan hama wereng, dengan semangka dia bisa
merubah nasibnya dari petani gurem menjadi petani tangguh.