Kamis, 05 Desember 2013

Petani


13352634941180955559 .
Namanya Jono, umurnya sekarang genap 65 tahun, tapi dia tak menampakkan kesan uzur seperti pria seumuran dengannya. Dalam usianya yang sebenarnya sudah sepuh dia tetap menjadi pekebun semangka di Perean Tabanan, kebun semangkanya tersebar di pinggiran jalan Bedugul, di Basang Be sampai ke sekitar Luwus. Dia tak punya lahan sendiri tapi menyewa sekitar Rp 50.000/are untuk setahunnya. Ini sewa yang murah karena di tempat lain dihitung sekali musim tanam sewanya Rp 30.000. Setahun bisa tiga kali tanam dan 2 kali panenKepiawaiannya bercocok tanam semangka dimulai ketika di tahun 80an, dia gagal panen karena serangan wereng. Waktu itu dia tak menyewa lahan tapi memakai sistim nandu, pemilik punya separo dia dua pertiganya.

“Saya keluar bibit, keluar ongkos traktor dan pupuk, giliran panen pemilik dapat lebih banyak, ketika kena serangan wereng saya tetap merugi tapi si pemilik tak mau ikut nanggung ruginya,” tutur ayah 5 anak yang semuanya sudah berkeluarga ini.
Berawal dari rasa sakit hati itulah dia belajar bertanam semangka dari petani asal Jember yang sukses bertanam semangka di Kuwum kala itu. Selama satu musim dia menjadi buruh cangkul, menanam dan menyiangi semangka, setelah ilmunya cukup, dia pulang ke Perean.
Dia jual 5 ekor sapinya untuk ongkos sewa lahan. Dia membeli bibit sebotol yang kala itu harganya masih Rp 50.000. Dia mencangkul lahannya sendiri, menyiangi dan membuat anjir yakni tongkat bambu tempat merambat semangka. Penduduk yang masih pasrah hanya bertanam padi mengiranya sudah gila.
“Mereka pikir semangka hanya pantas hidup di dataran rendah tidak di Perean yang ketinggannya hampir 500 meter diatas permukaan laut, tapi saya terus maju bertanam semangka, sempat gagal sampai 4 kali tak membuat saya putus asa,” tambahnya. 

13352637151649242810Kegagalan sering disebabkan oleh kesalahan memilih bibit, mestinya yang non biji merah bukan yang kuning dengan biji, maka ketika bibit sudah tepat, dalam sekali panen tanah yang disewanya tak sampai Rp 3 juta untuk 10 bulan, bisa menghasilkan lebih dari Rp 20 juta sekali musim.
“Demi melihat saya berhasil, tetangga langsung berdatangan belajar bertanam semangka, dan mereka berlomba-lomba menanam semangka sampai sekarang,” ungkapnya lagi. Sekarang ini dia memiliki tak kurang dari 75 are lahan sewaan yang ditanami semangka. Dalam satu are diisi tak kurang dari 100 pohon maka untuk 75 are dia memiliki tak kurang dari 4900 anjir yang sarat semangka.
Harga satu kilogram semangka bisa mencapai Rp 6000. Dan setiap panen dia mendapatkan sekitar 2 ton, maka bisa dihitung untuk satu musim panen dia mengantongi tak kurang dari Rp 12 juta bersih sudah dipotong bibit dan ongkos garap lahan.
Semangkanya ranum dan bagus, karena dia merawatnya dengan telaten. “Semangka itu termasuk tanaman yang gampangan, tidak seperti melon dan timun suri yang perlu perkawinan khusus, pupuk khusus dan perlakuan yang khusus pula,” ungkapnya. Hanya saja semangka tak tahan hujan, daunnya menguning bunganya rontok kemudian batangnya membusuk.
Pasarnyapun tak terbatas, tidak laku di pasar Baturiti, dia menjualnya sampai ke pasar Batu Kandik atau Pasar Kumbasari dan Kreneng, kesemuanya di Denpasar.
Semangka juga tidak seperti melon yang gampang rusak, dia malahan semakin lama disimpan airnya makin susut rasanya makin gurih, dan jangan lupa jaman sekarang ketika banyak orang terkena hipertensi, ingin awet muda mereka umumnya menggunakan semangka untuk obat.
“Selain untuk pelengkap sesajen, semangka juga menjadi buah andalan sebagai hidangan penutup atau pencuci mulut di resto dan cafe,” tambahnya.
Dia tak hendak kembali menjadi petani padi yang membuat dia trauma karena merugi jutaan akibat serangan hama wereng, dengan semangka dia bisa merubah nasibnya dari petani gurem menjadi petani tangguh.